Gue nggak pernah bayangin bakal jadi bapak yang ngajarin anak naik sepeda di jalan tanah depan rumah. Tapi ya itulah yang terjadi. Tiga tahun lalu, gue dan istri mutusin pindah dari kota ke kampung halaman istri di Jawa Tengah. Bukan karena apa-apa yang muluk. Cuma pengen hidup lebih tenang, dan yang paling utama: pengen anak kami tumbuh dekat sama kakek-neneknya.
Keputusan itu nggak gampang. Banyak yang bilang kami gila. Karier di kota udah lumayan, kenapa harus balik ke desa? Tapi sekarang, setelah hampir tiga tahun jalanin hidup di kampung sambil ngasuh anak, ada banyak hal yang gue pelajari. Terutama soal hubungan keluarga. Dan beberapa di antaranya bikin gue sadar betapa salahnya cara pikir gue dulu.
Baca juga: Ibu Rumah Tangga, Ini Pelajaran soal Keluarga yang Baru Kupahami
Anak Itu Belajar dari Apa yang Dia Lihat, Bukan Apa yang Kita Bilang
Ini pelajaran pertama yang paling nendang. Dulu, waktu masih di kota, gue sering ngomel ke anak gue soal main HP kelamaan. Tapi di saat yang sama, gue sendiri pegang HP terus. Mau makan sambil scroll, mau tidur sambil nonton YouTube. Anak umur lima tahun itu nggak bodoh. Dia lihat, dia tiru.
Begitu pindah ke kampung, kebiasaan itu perlahan berubah. Bukan karena gue tiba-tiba jadi orang suci. Tapi karena di kampung, godaannya beda. Sinyal sering lemah. Listrik kadang mati. Mau main HP sampai jam berapa pun, ya mentok juga. Akhirnya gue lebih sering ngobrol sama anak, main sama dia di halaman, atau sekadar duduk di teras sambil lihat dia main sama anak-anak tetangga.
Anak itu bukan pendengar yang baik. Tapi dia peniru yang luar biasa.
Gue baru sadar, selama ini gue terlalu banyak ngasih instruksi dan terlalu sedikit ngasih contoh. Di kampung, mau nggak mau, gue harus jadi contoh. Karena nggak ada taman bermain, nggak ada mall, nggak ada tempat les yang bisa jadi "penyelamat" biar anak sibuk sendiri. Semuanya ya dari keluarga.
Nenek dan Kakek Itu Guru yang Nggak Pernah Kita Hitung
Salah satu alasan terbesar kami pindah adalah biar anak dekat sama kakek-neneknya. Dan ternyata, keputusan itu jadi salah satu yang terbaik yang pernah kami ambil.
Anak gue belajar banyak hal dari kakeknya. Cara nanam padi. Cara manggil kucing biar datang. Cara bersalaman sama orang yang lebih tua. Hal-hal kecil yang mungkin nggak akan pernah dia dapat kalau kami tetap di kota. Neneknya ngajarin dia doa sebelum makan, ngajarin dia sabar nunggu kue matang, ngajarin dia nggak rewel kalau nggak dibeliin jajan.
Yang lebih penting lagi: gue lihat sendiri gimana anak gue belajar menghormati orang tua dari cara gue memperlakukan orang tua gue. Kalau gue ngomong kasar ke bapak gue, anak gue catat itu. Kalau gue bantu ibu gue masak, anak gue juga catat. Nggak ada yang luput dari perhatian anak kecil.
Yang Nggak Bisa Digantikan Uang
Gue nggak bilang hidup di kampung lebih mulia. Banyak juga orang tua di kota yang sukses mendidik anaknya dengan baik. Tapi buat kami, tinggal dekat keluarga besar ngasih sesuatu yang nggak bisa dibeli. Anak gue punya banyak figur yang bisa dia contoh. Kalau gue lagi capek, ada neneknya. Kalau gue lagi sibuk, ada kakeknya. Anak nggak cuma belajar dari satu atau dua orang, tapi dari satu kampung.
Mengasuh Anak Itu Kerja Tim, Bukan Kerja Sendirian
Ini yang paling sering gue lihat di kota. Banyak pasangan yang ngasuh anak kayak lagi jalanin proyek masing-masing. Ibu ngurus anak, bapak cari uang. Nggak salah sih, tapi lama-lama bikin capek dan jauh.
Di kampung, pola itu susah diterapkan. Karena hidupnya lebih kolektif. Tetangga ikut ngawasin anak kita main. Nenek ikut nyuapin kalau kita lagi repot. Bahkan tetangga sebelah rumah kadang ikut negur kalau anak kita nakal. Awalnya gue risih. Lama-lama gue sadar, itu justru bantuan.
Istri gue juga jadi lebih ringan. Dulu di kota, dia kayak ngasuh anak sendirian. Sekarang, dia punya banyak tangan yang bantu. Dan yang lebih penting, dia punya teman ngobrol. Sesama ibu-ibu di kampung yang ngerti banget gimana rasanya ngurus anak sambil ngurus rumah.
- Anak belajar sosialisasi dari banyak orang, bukan cuma dari orang tuanya
- Orang tua punya ruang untuk istirahat tanpa rasa bersalah
- Keluarga besar jadi sistem pendukung yang nyata, bukan cuma formalitas
- Anak tumbuh dengan rasa aman karena merasa diterima banyak orang
Hal-Hal Kecil yang Ternyata Paling Diingat Anak
Gue pernah nanya ke anak gue, apa yang paling dia suka dari tinggal di kampung. Gue kira dia bakal jawab main sama teman-temannya. Atau makan jajanan di warung. Ternyata jawabannya sederhana banget.
"Suka kalau bapak cerita sebelum tidur," katanya.
Itu aja. Nggak ada yang mahal. Nggak ada yang istimewa. Cuma gue duduk di samping kasurnya, cerita tentang kancil, atau tentang masa kecil gue di kampung yang sama. Kadang gue cerita tentang waktu gue kecil dulu jatuh dari pohon mangga. Dia ketawa. Kadang dia minta cerita yang sama berulang-ulang. Dan gue nggak pernah bosen.
Dulu di kota, gue sering mikir bahwa ngasuh anak itu soal ngasih fasilitas. Sekolah bagus, mainan lengkap, baju bagus. Sekarang gue sadar, yang anak butuhin sebenarnya sederhana. Kehadiran. Perhatian. Waktu. Tiga hal yang nggak bisa dibeli, tapi bisa banget kita kasih kalau kita mau.
Mungkin buat kamu yang baca ini dan lagi ngasuh anak di mana pun kamu tinggal — kota, desa, atau di perantauan — nggak ada rumus pasti. Tapi kalau ada satu hal yang gue pelajari dari tiga tahun ini, itu adalah: anak nggak butuh orang tua yang sempurna. Anak butuh orang tua yang hadir. Yang mau belajar. Yang mau salah dan memperbaiki diri.
Dan kalau kamu punya keluarga besar di kampung, jangan remehin itu. Kadang yang kita cari jauh-jauh di kota, udah ada di rumah sejak awal.