Gue freelancer udah lima tahun. Dua tahun terakhir ini, statusnya nambah: jadi bapak dari satu anak yang umurnya baru masuk SD. Dan jujur aja, sampai sekarang gue masih sering salah kaprah soal waktu. Kadang gue pikir, enaknya kerja jam berapa aja sesuka hati — toh deadline aman. Tapi anak bukan klien yang bisa gue tawar soal tenggat. Dia butuh gue hadir, bukan cuma ada.
Nah, minggu lalu gue iseng bikin eksperimen kecil. Gue mau bandingin dua gaya ngatur hari: jadwal fleksibel total versus rutinitas yang agak kaku. Tujuannya simpel — mana yang bikin hubungan gue sama anak lebih hangat, tanpa bikin kerjaan berantakan. Buat kamu yang juga freelancer dan punya anak, mungkin rencana sepekan ini bisa kamu contek.
Baca juga: Anak Saya Besar di Kampung, Ini yang Saya Pelajari soal Keluarga
Kenapa Freelancer Rentan Salah Urusan soal Keluarga
Kerja lepas itu nikmat karena nggak ada bos yang ngawasin jam masuk. Tapi justru di situ jebakannya. Karena semua terasa bisa digeser, semua juga terasa bisa ditunda. Termasuk main sama anak. "Nanti aja pas kerjaan kelar," begitu kalimat favorit gue dulu. Padahal kerjaan freelancer itu nggak pernah benar-benar kelar.
Anak gue pernah nanya, "Bapak kok kerjanya terus sih?" Bukan dengan nada nyindir, cuma polos. Tapi rasanya kayak ditampar. Sejak itu gue sadar, yang dia lihat bukan hasil kerja gue, tapi tubuh gue yang selalu di depan laptop. Dari situ gue mulai mikir, mungkin yang perlu diubah bukan jumlah jam kerja, tapi pola-nya.
"Anak nggak butuh kamu punya banyak waktu. Dia butuh tahu kapan waktunya dia."
Rencana Sepekan: Fleksibel vs Kaku
Gue bagi minggu jadi dua blok. Senin sampai Rabu gue pakai pendekatan fleksibel — kerja kapan aja, main sama anak kapan aja, sesuai mood dan deadline. Kamis sampai Minggu gue balik ke rutinitas kaku: jam kerja jelas, jam main anak jelas, jam tidur jelas. Hasilnya lumayan ngejutin.
Senin–Rabu: Bebas Tapi Berantakan
Hari pertama, gue bangun agak siang. Anak udah di sekolah. Gue kerja sambil sarapan, terus kelar satu tugas jam sebelas. Enak. Siang gue ajak dia main bentar, tapi kepala gue masih nyangkut di revisi klien. Dia ngajak bikin lego, gue iyain sambil sesekali buka HP. Dia diam aja, tapi lama-lama main sendiri.
Hari kedua mirip. Deadline mepet, jadi gue kerja sampai magrib. Anak nonton TV lebih lama dari biasanya. Gue merasa bersalah, tapi besoknya gue ulang lagi. Pola yang sama. Yang gue sadari di akhir hari ketiga: nggak ada satu momen pun yang benar-benar utuh. Kerja setengah-setengah, main juga setengah-setengah. Dua-duanya jadi hambar.
- Kelebihan: nggak ada tekanan jam, cocok kalau ada deadline mendadak.
- Kekurangan: anak nggak punya patokan kapan dia dapat perhatian penuh.
- Efek ke hubungan: terasa ada, tapi nggak nyambung.
Kamis–Minggu: Kaku Tapi Jelas
Kamis gue coba disiplin. Jam 7 pagi urus anak, jam 8 sampai 12 kerja fokus, HP mode senyap. Jam 12 sampai 1 istirahat bareng. Sore, jam 4 sampai 6, blocking time khusus buat anak — nggak buka laptop sama sekali. Malam baru lanjut kerja tipis-tipis kalau perlu.
Hari pertama berat. Rasanya kok kaku banget, kayak balik jadi karyawan. Tapi anehnya, anak gue kelihatan lebih tenang. Dia tahu jam 4 itu waktunya dia. Nggak nanya-nanya lagi, nggak merengek minta ditemenin. Dia main sendiri sambil nunggu, karena yakin bakal dapat giliran.
Sabtu gue bikin lebih santai, tapi tetap ada patokan. Pagi jalan bareng, siang bebas, sore baca buku sama-sama. Minggu gue pakai buat beresin kerjaan ringan sambil anak main di dekat gue. Nggak sempurna, tapi kerasa lebih hidup. Ada rasa "aku di sini buat kamu" yang jelas, bukan cuma nebak-nebak.
- Kelebihan: anak punya kepastian, kerja juga lebih fokus.
- Kekurangan: butuh disiplin ekstra, agak kaku di awal.
- Efek ke hubungan: lebih hangat karena waktunya utuh, bukan sisa.
Yang Gue Pelajari dari Perbandingan Ini
Jujur, gue nggak nyangka hasilnya sejelas ini. Fleksibilitas itu enak buat kerja, tapi buat anak, kepastian lebih penting daripada kebebasan. Anak nggak peduli kamu punya seharian penuh — dia peduli kamu ada waktu dia butuh. Rutinitas kaku ternyata bukan soal jadi kaku ke anak, tapi soal bikin batas yang bikin semua pihak tenang.
Tapi gue juga nggak mau munafik. Freelancer nggak selalu bisa kaku seratus persen. Ada hari deadline numpuk, ada hari klien minta revisi tengah malam. Jadi rencana sepekan ini bukan buat dijalani mati-matian. Anggap aja panduan. Di hari-hari fleksibel, minimal kasih satu slot utuh buat anak, walau cuma 30 menit tanpa HP. Di hari kaku, jangan terlalu keras ke diri sendiri kalau meleset.
Yang paling ngena buat gue: anak nggak butuh bapak yang selalu ada 24 jam. Dia butuh bapak yang hadir saat waktunya dia. Dan itu bisa dilatih lewat rutinitas kecil, bukan lewat niat besar yang nggak pernah jalan. Coba deh satu minggu, bandingin sendiri. Kamu mungkin bakal kaget sama hasilnya, kayak gue.